Kita pasti sering mendengar
tentang Guru yang Profesional. Sebelum kita membahas tentang guru yang
professional, mari kita bahas pengertiannya terlebih dahulu.
Menurut Wikipedia, Guru adalah
pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti
ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas,
setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang
guru.
Sedangkan professional adalah orang yang memiliki profesi atau pekerjaan
yang dilakukan dengan memiliki kemampuan yang tinggi dan berpegang teguh kepada
nilai moral yang mengarahkan serta mendasari perbuatan. Atau definisi dari
profesional adalah orang yang hidup dengan cara mempraktekan suatu keterampilan
atau keahlian tertentu yang terlibat dengan suatu kegiatan menurut keahliannya.
Jadi dapat disimpulkan profesional yaitu orang yang menjalankan profesi sesuai
dengan keahliannya.
Jadi guru yang professional
seperti yang telah disimpulkan oleh Luk Bohari Guru profesional adalah guru
yang mampu mendidik anak muridnya menjadi generasi yang mampu bersaing dan
memiliki moral yang baik, seorang pendidik hendaknya memiliki prilaku yang baik
yang mampu menjadi tauladan yang patut diikuti oleh siswa. Menurut saya kesimpulan
sederhananya guru professional adalah guru yang berhasil menyampaikan
pengetahuan kepada siswanya dengan cara yang menyenangkan.
Pada zaman sekarang atau lebih
sering disebut zaman now, guru di
tuntut untuk menjadi seorang professional. Karena seiring berkembangnya zaman,
para guru dituntut untuk lebih kreatif, inovatif serta inspiratif ketika
mengajar di kelas.
Untuk menjadi guru yang
professional dapat ditempuh melalui pendidikan yang diadakan pemerintah, yaitu
PLPG (pendidikan dan pelatihan guru) yang sekarang namanya berganti dengan PPG
(Pendidikan Profesi Guru). Kalau PLPG lebih dikhususkan kepada para guru yang
mempunyai masa kerja diatas 5 tahun. Pendidikannya pun dilaksanakan di lembaga
yang sudah ditentukan oleh pemerintah dengan masa pendidikan kurang lebih 12
hari. Sedangkan PPG lebih mengutamakan pada proses pendidikan dan
keprofesianilitas yang bisa ditempuh oleh guru yang minimal memiliki masa kerja
2 tahun dengan masa pendidikan 4 bulan dan dilanjutkan dengan pendidikan
prajabatan selama 1 tahun.
Namun sayangnya sebagian guru
mengikuti PLPG hanya untuk mendapatkan Sertifikat Pendidik sebagai salah satu
syarat untuk mendapatkan Tunjangan Sertifikasi yang menurut saya lumayan besar.
Mirisnya, terkadang malah tidak memperhatikan “keprofesionalan” lagi. Yang ada cuma
bagaimana melengkapi berkas untuk pencairan tunjangan profesi tersebut.
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya
pengertian sederhana dari guru yang professional adalah guru yang mampu
mendidik anak didiknya dengan baik. Pertanyaannya,
kalau guru tersebut terlalu sibuk
melengkapi persyaratan atau berkas untuk dapat menerima tunjangan sertifikasi,
bagaimana dengan keberhasilan siswa dalam pembelajaran? Apakah tujuan
pembelajaran dapat tercapai? Mungkin dapat tercapai. Untuk menjawab pertanyaan
tersebut tergantung bagaimana dedikasi guru tersebut terhadap pendidikan di
Indonesia.
Perlu diketahui, selain
melaksanakan kegiatan pembelajaran seorang guru juga dituntut untuk membuat
setumpuk berkas administrasi yang memang wajib dibuat oleh seorang guru. Mulai dari
absensi, silabus, rencana pembelajaran sampai dengan penilaian dan ditambah lagi
dengan berbagai macam bentuk administrasi lainnya. Kalau seperti sekolah
menengah mungkin lebih mudah karena ada pegawai
tata usaha. Sedangkan sekolah dasar? Walaupun ada banyak sekolah dasar
yang mempunyai pegawai tata usaha. Tapi kebanyakan di daerah perkotaan. Sedangkan
di daerah pedesaan guru yang ada di sekolah tersebut pun pas-pasan, bahkan
sering kekurangan tenaga pengajar. Apalagi sekolah yang termasuk kategori
terpencil. Pada sekolah kategori terpencil tersebut 1 orang guru dapat memegang
3 kelas sekaligus. Kebanyakan guru hanya
memberi siswa soal tanpa diberi materi terlebih dahulu karena para guru
tersebut sibuk dengan setumpuk administrasi yang saya sebutkan tadi. Pertanyaannya
bagaimana seorang guru dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dengan
baik?
hal tersebut malah membuat
kegiatan belajar mengajar menjadi tidak efektif yang mana menjauhkan seorang
guru tersebut dari sebutan “Guru yang Profesional”. Walaupun guru tersebut
sudah memiliki sertifikat pendidik, kiranya guru tersebut belum bisa disebut
guru yang professional.
Padahal menurut saya untuk
menjadi seorang guru yang professional kita tidak harus mengikuti PLPG ataupun
PPG. Walaupun kita sudah memiliki sertifikat pendidik, belum tentu kita dapat
dikategorikan guru yang profesionalitas.
Seperti yang ditulis BapakDhemajad dalam blognya. Beliau membagikan tips untuk menjadi guru yang professional
antara lain :
- Berusahalah tampil di muka kelas dengan prima, kuasai betul materi pelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Jika perlu, ketika berbicara di muka kelasa tidak membuka catatan atau buku pegangan sama sekali.Berbicaralah yang jelas dan lancar sehingga terkesan di hati siswa bahwa kita benar-benar tahu segala permasalahan dari materi yang disampaikan. (Tips Menjadi Guru).
- Berlakulah bijaksana, sadarilah bahwa siswa yang kita ajar,
memiliki tingkat kepandaian yang berbeda-beda.
Ada yang cepat mengerti, ada yang sedang, ada yang lambat dan ada yang sangat lambat bahkan ada yang sulit untuk bisa dimengerti. Jika kita memiliki kesadaran ini, maka sudah bisa dipastikan kita akan memiliki kesabaran yang tinggi untuk menampung pertanyaan-pertanyaan dari anak didik kita, carilah cara sederhana untuk menjelaskan pada siswa yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan contoh-contoh sederhana yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari- hari walaupun mungkin contoh-contoh itu agak konyol. - Berusahalah selalu ceria di muka kelas, jangan membawa persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu kita mulai dan sedang mengajar.
- Kendalikan emosi, jangan mudah marah di kelas dan jangan mudah tersinggung karena perilaku siswa. Ingat siswa yang kita ajar adalah remaja yang masih sangat labil emasinya. Siswa yang kita ajar berasal dari daerah dan budaya yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya dan berbeda dengan kebiasaan kita, apalagi mungkin pendidikan di rumah dari orang tuanya memang kurang sesuai dengan tata cara dan kebiasaan kita.Marah di kelas akan membuat suasana menjadi tidak enak, siswa menjadi tegang. Hal ini akan berpengaruh pada daya nalar siswa untuk menerima materi pelajaran yang kita berikan.
- Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa, jangan memarahi siswa yang yang terlalu sering bertanya. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa dengan baik. Jika suatu saat ada pertanyaan dari siswa yang tidak siap dijawab,
berlakulah jujur. Berjanjilah untuk dapat menjawabnya dengan benar pada kesempatan lain sementara kita berusaha mencari jawaban tersebut. Janganlah merasa malu karena hal ini. Ingat sebagai manusia kita memiliki keterbatasan. Tapi usahakan hal seperti ini jangan terlalu sering terjadi. Untuk menghindari kejadian seperti ini, berusahalah untuk banyak membaca dan belajar lagi, jangan bosan belajar. Janganlah menutupi kelemahan kita dengan cara marah-marah bila ada anak yang bertanya sehingga menjadikan anak tidak berani bertanya lagi. Jika siswa sudah tidak beranibertanya, jangan harap pendidikan / pengajaran kita akan berhasil. (Tips Menjadi Guru)- Memiliki rasa malu dan rasa takut, untuk menjadi guru yang baik , maka seorang guru harus memiliki sifat ini. Dalam hal ini yang dimaksud rasa malu adalah malu untuk melakukan perbuatan salah , sementara rasa takut adalah takut dari akibat perbuatan salah yang kita lakukan. Dengan memiliki kedua sifat ini maka setiap perbuatan yang akan kita lakukan akan lebih mudah kita kendalikan dan dipertimbangkan kembali apakah akan terus dilakukan atau tidak.
- Harus dapat menerima hidup ini sebagai mana adanya, di negeri ini banyak semboyan-semboyan mengagungkan profesi guru tapi kenyataannya negeri ini belum mampu / mau mensejahterakan kehidupan guru. Kita harus bisa menerima kenyataan ini, jangan membandingkan penghasilan dari jerih payah kita dengan penghasilan orang lain / pegawai dari instansi lain. Berusaha untuk hidup sederhana dan jika masih belum cukup berusaha mencari sambilan lain yang halal, yang tidak merigikan orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. Jangan pusingkan gunjingan orang lain, ingatlah pepatah “anjing menggonggong bajaj berlalu.” (Tips Menjadi Guru)
- Tidak sombong, tidak menyombongkan diri di hadapan murid / jangan membanggakan diri sendiri, baik ketika sedang mengajar atau berada di lingkungan lain. Jangan mencemoohkan siswa yang tidak pandai di kelas dan jangan mempermalukan siswa (yang salah sekalipun) di muka orang banyak. Namun pangillah siswa yang bersalah dan bicaralah dengan baik-baik, tidak berbicara dan berlaku kasar pada siswa.
- Berlakulah adil, berusahalah adil dalam memberi penilaian kepada siswa. Jangan membeda-bedakan siswa yang pandai / mampu dan siswa yang kurang pandai / kurang mampu Serta tidak memuji secara berlebihan terhadap siswa yang pandai di hadapan siswa yang kurang pandai.
Mudah-mudahan kita semua para
guru bisa menjadi seorang guru yang benar-benar professional untuk mencerdaskan
anak didik kita masing-masing. Silakan tinggalkan pendapat bapak ibu di kolom
komentar, terima kasih.
Oleh : Agus Sardi, S. Pd

guru itu yang profesional
ReplyDeleteminimal mendekati ke profesional
bebannya berat, pahlawan tanpa tanda jasa
tapi benarkah demikian?
Seorang guru harus bisa memotivasi peserta didik, sehingga semangat belajar mereka akan terbangun dengan sendirinya nanti.
ReplyDelete