Akhir-akhir ini banyak sekali beredar
berita tentang kekerasan yang dilakukan
Guru pada siswanya dengan alasan mendidik karena siswa tersebut melanggar aturan Guru atau melanggar aturan
sekolah, dan ada juga Guru yang akhirnya
mendekam di penjara, alias dipenjarakan
murid-muridnya sendiri dengan alasan melanggar HAM,
melakukan kekerasan pada siswa bahkan sampai “mencabuli” siswanya sendiri.
Tidak jauh beda dengan kelakuan siswa
yang sering kita tonton di beberapa berita lokal. Banyak siswa suka sekali dengan
tawuran, pembunuhan, pemerkosaan. dan masih banyak
lagi kejadian-kejadian akhir-akhir ini yang
sungguh membuat malu dan mencoreng dunia pendidikan.
Padahal seharusnya dengan adanya
pendidikan dapat meminimalisir bahkan menghilangkan beberapa penyimpangan
perilaku tersebut.
baca juga : pengertian dan contoh rpp model role playing
Contoh sederhana yang saya alami, pada zaman dahulu ketika siswa melewati kerumunan atau tempat dimana ada Guru mereka yang sedang duduk, para siswa
cenderung takut, malu, dan seringkali
mengurungkan niatnya untuk lewat didepan mereka, kalaupun terpaksa lewat
didepan para Guru, sopan santunpun
dimaksimalkan, dengan mengucap, permisi/ sambil membungkuk-bungkuk
melewatinya, TAPI..... sekarang, jangankan sopan santun yang dimaksimalkan,
malah bahasanya KH. Anwar Zahid extrimnya lewat didepan Guru sambil loncat dan kentut.
Sebagian dari guru zaman sekarang mengajar kurang didasari oleh keikhlasan, tetapi sebagai mata pencaharian untuk mengejar harta dunia. mengajar hanya memenuhi kewajiban pemerintah, supaya tunjangan didapatkan dan kesejahteraan yang akan didapatkan. Mengajar tidak lagi dengan niat membagikan ilmu yang bermanfaat kepada siswa-siswanya.
Pertanyaannya, kenapa terjadi kesenjangan antara siswa dan guru dulu dengan siswa dan guru sekarang? Mari kita bahas bersama.
Note : siswa dan guru zaman dulu kurang lebih tahun 90 ke bawah. Sedangkan siswa dan guru zaman sekarang dari tahun 90 ke atas.
Ada beberapa pendapat yang dikemukakan rekan-rekan guru dan mahasiswa tentang perbedaan tersebut.
Seperti yang di tulis Pak Mudzakkir dalam blognya, Beliau berpendapat bahwa sifat siswa dulu sebagai berikut :
1.
Lebih patuh dan hormat
kepada guru, bahkan ketika berjalan dan berbicara senantiasa menjaga kesopanannya.
2.
Ketika
diberitahu/dinasehati mendengarkannya dengan seksama.
3.
Lebih perhatian kepada
guru, jika ada guru yang sakit, langsung berduyun-duyun ke rumah, walau jaraknya jauh, terkadang sampai urunan/iuran untuk
membeli oleh-oleh.
4.
Ketika diperintah guru
langsung mendengarkan dan bahkan malu kalau ke sekolah sebelum mengerjakan tugas tersebut
5.
Siswa dulu menganggap
guru adalah orang tua sehingga sangat menghormatinya, meskipun guru itu kadang keras
6.
Mengganggap hukuman
adalah pelajaran dan konsekwensi dari sebuah kesalahan.
Sedangkan siswa sekarang cenderung bersifat :
1.
kurang menghormati guru
bahkan cenderung berani
2.
Ketika diberitahu/dinasehati
tidak langsung mendengar bahkan kadang membantah
3.
Kurang perhatian kepada guru,
bahkan lebih senang kalau gurunya tidak hadir.
4.
Ketika diperintahkan guru
untuk mengerjakan tugas, menggerutu, kalau SD ia meminta tolong kepada orang tua/guru kelasnya
5.
Tidak malu kalau belum
mengerjakan tugas
6.
Kalau dihukum/diberitahu
malah menantang, bahkan tidak jarang jika dihukum malah senang.
7.
Menganggap guru sebagai
teman, bukan orang tua. bahkan tak jarang ada yang panggil bukan sebagai
pak guru misalnya dibeberapa sekolah SMA memanggil
dengan gurauan
- Guru sangat dihormati, baik oleh murid-muridnya maupun oleh masyarakat disekitarnya.
- Guru masih dianggap sebagai pekerjaan yang mulia dan terpandang.
- Setiap guru datang selalu disambut murid dengan bersalaman dan cium tangan dan murid selalu mematuhi apa yang guru perintahkan alias Sami'na Wa Atho'na (Kami Mendengar dan Kami Taat).
- Guru tidak ada bedanya dengan pekerjaan lainnya, yang orientasinya cenderung ke uang-uang dan uang.
- Guru kurang baik akhlak dan kepribadianya,
- Guru kurang dihormati siswanya dan tidak dipatuhi perkataanya
Seperti
artikel yang ditulis oleh Link Majaya di Kompasiana,
beliau mengatakan :
Pada jaman ini seseorang memilih menjadi guru
lebih terdorong oleh hasrat dalam diri untuk
membaktikan diri. Ia memahami konsekuensi
menjadi guru adalah melayani, dan sudah sadar
bahwa ia tidak akan kaya seperti seorang
pengusaha. Di era 1980-an seorang guru yang
mempunyai kemampuan lebih bisa memberikan bimbingan belajar di luar jam sekolah, itu adalah pemasukan tambahan selain gaji pokok sebagai seorang guru. Ada juga yang membuka warung kecil-kecilan untuk menambah lauk di rumah. Belum lagi di daerah terpencil, tenaga mereka dihargai dengan hasil ladang
orang tua murid. Maka di jaman itu kita sering
mendengar istilah: “Guru adalah pahlawan tanpa tanda
jasa.”baca juga : macam-macam model pendidikan untuk sekolah dasar
Guru pada jaman itu merupakan suatu profesi yang sangat terhormat, karena dianggap memiliki pengetahuan lebih daripada masyarakat setempat. Masyarakat juga menuntut guru untuk mengajarkan nilai moral kepada anak-anak mereka, di samping pengetahuan baca tulis dan berhitung.Guru juga punya hak sebagai pengganti orang tua ketika siswa berada di sekolah.Cara mendidik mereka lebih banyak menggunakan pendekatan pribadi yang membuat interaksi guru murid lebih erat. Hal ini terbawa sampai di luar jam sekolah karena kondisi sosial masyarakat jaman dulu yang lebih bersifat kekeluargaan.
penerimaan tenaga pendidik pada zaman sekarang lebih mengutamakan nilai kelulusan berdasarkan rangking yang didapat dari guru tersebut. Apakah guru tersebut sudah pasti kompeten mengajar dengan kelulusan yang bernilai tinggi? Belum tentu. (Maaf, tidak ada sedikit pun maksud saya untuk menyamaratakan dedikasi dan porensi semua guru). Namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sekolah-sekolah yang ingin merekrut guru di samping pengalaman minimal 1 atau 2 tahun juga meminta bukti berupa sertikat yang dimiliki guru tersebut sebagai bukti bahwa ia mempunyai ‘skill’ lebih. Tuntutan ekonomi membuat dedikasi mengajar sebagai suatu pelayanan menjadi berkurang. Guru juga seorang manusia, ia punya keluarga yang harus dihidupi. Di jaman sekarang tuntutan ekonomi seakan tidak pernah habis, malah selalu naik setiap tahunnya.
Cara mendidik guru sekarang juga sangat jarang menggunakan pendekatan pribadi lagi. Wibawa seorang guru tidak lagi dianggap sebagai pihak otoriter yang mesti disegani, dipanuti. Murid menganggap guru mengajar hanya menjalankan kewajiban, interaksi guru-siswa terbatas pada jam sekolah. Masyarakat sekarang yang lebih mengarah ke individualis, terutama di kota-kota besar, membuat interaksi personal semakin berkurang. (Sekali lagi maaf…ini kecenderungan yang terlihat menonjol di masyarakat kita). Apakah hal ini merupakan efek domino dari tuntutan jaman atau sistem pemerintahan kita dalam menyusun kurikulum? (sumber : kompasiana)
Hal tersebut ditanggapi oleh Robert Tampoe (http://www.kompasiana.com/sarbutmataniari) “Aku jadi teringat pada kondisi dunia pendidikan pada masa dulu. Saya ambil contoh yang paling sederhana tapi benar-benar positif. Guru pada masa dulu benar-benar disegani oleh muridnya. Sebaliknya, murid masa dulu benar-benar aktif belajar. Murid masa dulu paling takut jika tidak mengerjakan PR, tapi murid masa sekarang? Mana peduli. “Emang gue pikirin” ,katanya.Guru masa dulu jika memberikan ganjaran terhadap muridnya tidak pernah sekali pun orang tuanya protes! Sekarang? Jangan coba-coba kalau tidak ingin berurusan dengan hukum. Untuk menegakkan disiplin saja pun guru sekarang tak kuasa karena takut berurusan dengan hukum.Akhirnya, mana ada wibawa guru sekarang?”
Tidak
hanya guru dan siswa, pendidikan di Indonesia pun memiliki perbedaan antara
pendidikan dulu (tahun 90an kebawah) dan sekarang (tahun 90an keatas).
Perbedaan yang terlihat jelas dapat kita lihat pada kurikulum yang
berubah-ubah. Mulai dari kurikulum 1947 yang dalam bahasa belanda disebut leer plan artinya rencana pelajaran yang
bersifat politis dan berasaskan Pancasila,
Sampai kurikulum yang belum secara merata digunakan di setiap sekolah
yaitu kurikulum 2013 yang (katanya) merupakan kurikulum hasil dari penyempurnaan
dari kurikulum yang terdahulu. Walaupun belum terlihat jelas bagaimana wujud
aslinya (sumber : blog
gurungapak)
Sebelum membuat postingan ini saya
juga sempat meminta pendapat dari teman-teman guru di media sosial.
Seperti pendapat dari Ustadzah Dinda yang mengajar di salah satu SD IT di Kapuas. Beliau
berpendapat bahwa guru dulu hanya bermodalkan sebuah sepeda ontel (sepeda zaman
dulu) karena kecilnya gaji guru seperti lagunya iwan fals yang berjudul Oemar
Bakrie. Walaupun mungkin karena saat itu belum ada kendaraan seperti sekarang.
Tetapi guru dulu mengajar dengan ikhlas sehingga dapat menjadi panutan bagi
siswa-siswanya. Sedangkan guru sekarang
cenderung lebih mementingkan “gengsi” daripada keikhlasan mengajar. Ada yang
gengsi kalau pergi mengajar tidak menggunakan mobil dan sebagainya. Guru
lama mungkin niat satu-satunya pada waktu itu bagaimana caranya agar siswa bisa
membaca dan berhitung. Yang menjadi guru pun pendidikannya hanya sebatas tamatan
SMA atau sederajat. Namun berhasil menjadikn siswa-siswinya sukses dengan
akhlak dan sopan santun yang luar biasa. Guru
sekarang tujuan utama kemungkinan hanya sekedar pekerjaan, mengisi waktu luang,
menambah penghasilan. Karena ada pepatah mengatakan segala sesuatu yang dimulai
dengan niat, maka pada akhirnya apa yang kita niatkn dari awal itulah hasilnya.
Siswa zaman dulu lebih bermoral dan berakhlak, wajar karena didikan dari awal
gurunya dan orang tua ikut andil. Apapun yang di lakukan gurunya disekolah terhadap
anaknya. Orang tua ikhlas menerima bahkan pulang kerumah malah dinasehati lagi
dan membenarkan tindakan gurunya. Siswa sekarang
memiliki akhlak yang kurang, wajar karena pertama pengaruh media sangat luas
mulai dari akses internet, sinetron, hingga game pun sdh mulai merusak tatanan
akhlak. Ditambah lagi ketika guru berusaha menegur malah dianggap remeh bahkan
dianggap tindak penganiayaan dan didukung oleh orang tua yang sampai berani melaporkan
gurunya ke polisi. Bagaimanapun juga suksesnya siswa tidak luput dari peran
lingkungan keluarga dan sekolah.
Ibu Mia Rhadiana juga berpendapat tentang guru dulu yang mempunyai niat
untuk mendidik siswa dengan target supaya anak didik menjadi pintar serta
memiliki akhlak dan moral. Hal tersebu membuat siswa zaman dulu lebih bermoral.
Contohnya ketika siswa bertemu guru langsung cium tangan dan member salam. Sedangkan
guru sekarang cenderung lebih mengejar pangkat dan sertifikasi. Sehingga siswanya mengalami krisis moral yang
mengakibatkan tumbuhnya sifat acuh tak acuh bila bertemu dengan guru.
Hal senada juga dikatakan Bapak Muhammad Aminullah yang mengajar di daerah marabahan dalam
komentarnya. Beliau mengatakan “Guru zaman dulu
utamanya adalah seorang pendidik moral dan karakter peserta didik yang tangguh,
disegani sekaligus "ditakuti" siswa. guru zaman sekarang lebih kepada
fasilitator belajar serta pemberi informasi pengetahuan. Begitu juga dengan
siswa zaman dulu secara garis besarnya adalah para pembelajar yang
"penurut" serta tekun dan patuh pada segala aturan yang ada,
berakhlak dan moral yang baik.. sedangkan siswa zaman sekarang adalah peserta
didik yang mendapatkan pengetahuan dan informasi yang banyak (dari intern dan
ekstern sekolah) namun penanaman nilai dan moral masih perlu diusahakan lebih
giat lagi. yang tujuannya untuk memfilter globalisasi yang terus menggerus
kearifan dari bangsa ini. Pendidikan dulu berorientasi pada karakter dan moral,
sedangkan pendidikan zaman sekarang lebih bersifat pragmatis, condong
mengutamakan angka dan rangking namun lemah di penanaman nilai dan karakter”.
Berbeda dengan pendapat di atas, Bapak Teguh yang mengajar di daerah Bangka Belitung. “Pada dasarnya,
guru, murid dan pendidikan itu semua sama tidak ada perbedaan. Namun dikarenakan
beralihnya zaman yang membawa banyak perubahan dan menuntut akan adanya
perubahan sistem maka dilakukanlah perubahan pada semua bagian pendidikan demi
menyesuaikan visi misi pendidikan yang dibangun pendiri bangsa pada masa sekarang.
Namun, yang sangat disayangkan semakin majunya zaman turut serta membawa efek
negatif yang tidak bisa disadari dan disaring oleh bagian dari semua elemen pelaksana
pendidikan itu sndri, baik itu pendidik, peserta didik, lingkungn keluarga maupun
masyarakat hingga menciptakan berbagai gejala sosial. Kalau boleh dikatakn :
jika musuhnya kuat maka jagoannya harus lebih kuat dan dikarenakan kita
ditakdirkan menjadi bagian itu maka harus siap sedia. Jangn menutup panca
indera namun harus lebih peka serta fleksibel agar dapat terus tampil,
berkarya, berkreatif dan beradaptasi di segala bidang pendidikan. Dulu saya
pernah mengatakan " dimanapun kita bisa belajar, Karena setiap tempat
adalah sekolah, siapapun yang kita temui adalah guru kita yang pastinya memberikan
pengetahuan baru bagi kita”.
Ustadzah Norina pun ikut berpendapat,
beliau memiliki pengalaman pribadi yang ingin dibagikan kepada
rekan-rekan guru seluruh Indonesia. “Semakin maju zaman, semakin sulit
tantangan kedepan, apalagi masalah murid. Murid sekarang hebat-hebat, bahkan mungkin
lebih hebat dari gurunya. Anak murid sudah terbiasa dengan internet dan media
sosial lainnya. sedangkan gurunya masih banyak yang “gaptek”, sehingga kadang
muridnya merasa lebih hebat dari guru sehingga berani pada guru. Kalau murid
zaman dulu, mereka sangat haus akan ilmu pengetahun. Yang menjadi pak “google”
mereka dulu adalah gurunya. Jadi murid menjadi mudah patuh pada perkataan guru
tanpa banyak protes. Sekarang yang dipikiran guru hanya bagaimana membuat RPP
seideal mungkin, mengajar sehebat mungkin. dari pikiran administrasi yg banyak
menyita waktu daripada mengajar hingga masalah anak terkesampingkan. belum lagi
masalah anak sendiri dirumah. Kalau guru dulu mengajarnya dengan hati dan
senang tanpa beban administrasi, hingga semua muridnya terperhatikan dengan
baik.”
Kesimpulannya, dari setiap zaman
yang berbeda pasti selalu ada perbedaan baik tentang guru, siswa, maupun
pendidikan itu sendiri. Apakah perbedaan itu mengarah ke positif ataupun kearah
negatif. Hal tersebut menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tanggung
jawab guru, siswa, maupun pemerintah. Tapi tanggung jawab dari semua elemen
masyarakat.
Mudah-mudahan dengan adanya
postingan ini menjadi salah satu cara kita untuk sama-sama memperberbaiki
kesalahan-kesalahan kita agar terciptanya pendidikan yang maju.


Memang banyak yang harus diperbaiki dengan sistem pendidikan di Indonesia. Siswa zaman sekarang mengganggap Guru bukan lagi sosok yang dihormati tapi sebagai pelayan mereka. Maka jangan heran mereka akan menjadi generasi yang kualat karena tak menghorati Guru seperti orang tua sendiri.
ReplyDeletealangkah baiknya kita sama-sama membangun karakter pendidikan di Indonesia, terima kasih kunjungannya pak
DeleteBegitulah Pak murid zaman sekarang, bukan prestasi yang dicapai malahan bermewahan dan terkesan sombong jg malas. Tapi tidak semua sih, tergantung juga didikan orang tuanya.
ReplyDeletebegitulah kira2 pak, menurut saya tidak hanya tergantung dari didikan orang tua, tapi juga dari lingkungannya yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan siswa tersebut
Deletesalam sukses selalu sobat
ReplyDeletemakasih sudah berbagi
terima kasih pak atas kunjungan nya
Deletehave a nice week !!
ReplyDeletethanks for visit my blog
DeleteSemoga kedepannya kualitas pendidikan di Indonesia bisa lebih baik lagi ya sehingga bisa membawa kualitas sdm yang handal dan bisa bersaing.
ReplyDeleteMasfim.com
amin, doa yang harus lebih giat dipanjatkan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia
DeleteJalan kesini juga dong ...https://www.pos-kaltara.co.id
ReplyDelete