Wednesday, February 22, 2017

Cara Memberikan Hukuman yang Mendidik Kepada Siswa



Dalam sebuah kelas, pasti terdapat siswa yang “nakal”. Untuk menghadapi siswa yang nakal tersebut pasti seorang guru akan member sebuah hukuman untuk siswa tersebut. 

Bagi guru-guru yang sudah senior mungkin itu bukan hal yang sepele, karena mereka sudah tahu secara jelas bagaimana cara menghadapi siswa yang nakal tersebut. Bagaimana dengan guru pemula? Jelas masalah tersebut bukan masalah yang sepele. Karena biasanya guru pemula yang masih minim pengalaman akan kebingungan bagaimana cara menghadapi siswa yang nakal tersebut. Dan juga biasanya guru pemula masih dianggap kurang berwibawa di mata siswa. Oleh karena itu, teguran-teguran dari guru pemula biasanya tak dihiraukan oleh siswa tersebut. Karena teguran tersebut tidak mempan pasti guru tersebut berinisiatif untuk memberi hukuman. Bisa dengan cara berdiri di depan kelas, berjemur di panas matahari, sampai membersihkan WC sekolah. Pertanyaannya, apakah boleh menghukum siswa tersebut?


Memberi hukuman kepada siswa sebenarnya sah-sah saja, tapi harus memperhatikan beberapa poin penting. Seperti yang di tulis Rahman Mourinho di Kompasiana poin-poin tersebut adalah :

1.      Hukuman harus bisa memberikan efek jera kepada siswa
2.      Hukuman harus bersifat mendidik atau edukatif
3.      Hukuman tidak digunakan untuk mempermalukan siswa

Kenapa siswa tersebut dihukum, sebenarnya itu terjadi karena berbagai faktor, seperti yang dikemukakan Bp. Abdul Hamid dalam blognya :

mengapa seorang guru menghukum muridnya? Menurut Mamiq Gaza dalam artikelnya yang berjudul Pedoman Pendidikan Tanpa Kekerasan Guru menghukum siswa dengan bijak, beliau menyebutkan faktor-faktor siswa dihukum nyaitu:
  1. Warisan generasi sebelumnya
  2. Tidak tertancapnya tujuan pengembangan siswa
  3. Keterbatasan guru pada ilmu psikologi perkembangan anak
  4. Minimnya kreativitas pendekatan guru
  5. System sekolah
Mamiq gaza juga menyebutkan juga dalam artikel yang sama tentang prosedur cara memberikan hukuman pada anak nyaitu:
  1. Jenis hukuman yang diberikan perlu disepakati di awal bersama anak
  2. Jenis hukuman yang diberikan harus jelas sehingga anak dapat memahami dengan baik konsekuensi kesalahan yang dilakukan.
  3. Hukuman harus dapat terukur sejauh mana efektivitas dan keberhasilannya dalam mengubah perilaku anak.
  4. Hukuman harus disampaikan dengan cara yang menyenangkan, tidak disampaikan dengan cara menakutkan apalagi memunculkan trauma berkepanjangan.
  5. Hukuman tidak berlaku jika ada stimulus diluar control. Artinay siswa melakukan kesalahan karena sesuatau yang tidak ia ketahui sebelumnya atau belum disepakati/belum dipublikasikan di awal.
  6. Hukuman dilaksanakan secara konsisten.
  7. Hukuman segera diberikan jika perilaku yang tidak diinginkan muncul. Penundaan akan berakibat pada biasnya tujuan hukuman yang diberikan.
Menurut Drs. Marijan, tokoh  pendidikan kita Ki Hajar Dewantara  berpesan mengemukakan pendapatnya bahwa dalam memberikan hukuman kepada anak didik, seorang pendidik harus memperhatikan 3 macam aturan:
  1. Hukuman harus selaras  dengan kesalahan.
Misalnya, kesalahannya memecah kaca hukumnya mengganti kaca yang pecah  itu  saja. Tidak perlu ada tambahan tempeleng atau hujatan yang menyakitkan hati. Jika datangnya terlambat  5 menit maka pulangnya ditambah 5 menit. Itu namanya  selaras.  Bukan datang terlambat 5 menit kok hukumannya mengintari lapangan sekolah 5 kali misalnya. Relasi apa yang ada di sini ? Itu namanya hukumn penyiksaan.
  1. Hukuman harus adil.
Adil harus  berdasarkan atas rasa obyektif, tidak memihak salah satu dan membuang perasaan subyektif. Misalnya siswa yang lain  membersihkan ruangan kelas  kok ada siswa yang hanya duduk – duduk sambil bernyanyi-nyanyi tak ikut  bekerja.  Maka hukumannya supaya ikut bekerja sesuai dengan teman-temannya dengan waktu ditambah  sama dengan keterlambatannya tanpa memandang siswa mana yang melakukannya.
  1. Hukuman harus lekas dijatuhkan.
Hal ini bertujuan agar siswa segera paham hubungan dari kesalahannya.  Pendidik pun harus jelas menunjukkan pelanggaran yang diperbuat siswa. Dengan harapan siswa  segera tahu dan sadar mempersiapkan  perbaikannya. Pendidik tidak diperkenankan asal memberi  hukuman sehingga siswa bingung menanggapinya.
Itulah wasiat Ki Hajar Dewantara yang dapat kita digunakan  sebagai pedoman  dan pertimbangan oleh kita sebagai guru / kepala sekolah yang sering mengangkat dirinya berfungsi ganda. Pertama berfungsi sebagai polisi, kemudian jaksa dan sekaligus  sebagai hakim  di sekolahnya. Guru/kepala sekolah memang mempunyai hak dan superioritas yang tinggi terhadap siswanya. Hal ini boleh kita lakukan asalkan tidak merugikan anak didik. Hal itulah yang menuntut pendidik bersifat bijak , sehingga hukuman tak boleh semena-mena terhadap anak didik.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Muh. Syukur Salman. Guru SDN 71 Parepare dalam blognya Bapa Deni. Beliau berpendapat hukuman kepada siswa ada yang boleh dan ada juga yang dilarang dilakukan.


Hukuman yang boleh diberikan kepada siswa
Hukuman dimaksudkan agar setiap pelanggaran terhadap aturan yang ada mampu diminimalisir. Hukuman di dunia pendidikan, khususnya hukuman yang diberikan guru kepada siswa perspektifnya jauh lebih kompleks dari hukuman secara umum. Kadang, pelanggaran yang dilakukan siswa justru akan lebih baik jika tidak perlu diberi sanksi atau hukuman, karena hukuman guru kepada siswanya tidak berarti guru benci kepada siswa tersebut, tetapi justru sebaliknya.

Hukuman guru kepada siswa tidak sekadar bermaksud agar tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut, tetapi lebih dari itu, hukuman tersebut juga dapat membuat siswa lebih baik dari sebelumnya. Pada kasus lainnya, hukuman harus mampu memberi pendidikan lebih kepada siswa. Oleh karena itu, hukuman guru kepada siswa lebih bersifat mendidik. Siswa harus mampu merasakan manfaat hukuman tersebut pada dirinya.

Hukuman di sekolah juga harus memperhatikan banyak faktor. Oleh karena itu, sangat sulit sekolah menyusun SOP pemberian hukuman kepada siswa yang bersalah. Sejatinya sekolah atau guru harus mampu menerapkan pemberian hukuman secara selektif. Harus memerhatikan faktor individual siswa, faktor penyebab kesalahan, faktor gender, faktor riwayat siswa, dan lainnya. Berdasarkan hal tersebut, terkadang kesalahan yang sama tetapi hukuman harus berbeda.

Hukuman juga boleh diberikan hanya jika hukuman tersebut jelas kaitannya dengan kesalahan yang dilakukan siswa. Tidak mengerjakan PR misalnya, hukumannya jangan sampai membersihkan WC atau berlari keliling lapangan upacara. Apa hubungannya tidak mengerjakan PR dengan hukuman tersebut?

Hukuman yang dilarang diberikan kepada siswa
Secara garis besar hukuman yang dilarang di sekolah ada dua yakni hukuman keras pisik dan psikis. Memberi hukuman keras sehingga menyebabkan siswa kesakitan pisik ataupun psikisnya tidak boleh lagi dilakukan oleh guru. Memukul siswa tentu bukan lagi hukuman guru kepada siswa, tetapi sudah masuk tindak kekerasan. Begitu pula jika siswa dimaki-maki dengan julukan yang menyakiti perasaan atau psikis (bullying).

Hukuman keras yang diberikan kepada siswa oleh guru tidak akan pernah berdampak positif terhadap perkembangan siswa itu sendiri. Mungkin dapat menjadi solusi instan terhadap pelanggaran yang dilakukan siswa, namun jangka panjangnya akan menjadi “bola salju” akan kebencian siswa terhadap guru atau sekolahnya. Jangan samakan dunia pendidikan khususnya institusi pendidikan sekarang dengan yang dulu. Mungkin 20 atau 30 tahun lalu, hukuman keras guru kepada siswa masih bisa ditolerir, bahkan ada yang beranggapan bahwa keberhasilan para pemimpin dan pengusaha saat ini adalah berkat hukuman keras dari guru kepada mereka sewaktu bersekolah. Benarkah anggapan tersebut? Mungkin benar tetapi mungkin pula salah.

Pada saat guru marah sehingga tidak lagi terkontrol emosinya, juga dilarang memberikan hukuman pada siswa. Perlu kembali diingat bahwa konotasi hukuman guru memang bukan kebencian kepada siswa tapi justu rasa sayang. Namun, guru juga manusia yang punya marah dan emosi, apalagi jika pelanggaran siswa telah melampaui batas toleransi hubungan guru dengan siswa. Kasus seperti ini mungkin saja terjadi, namun pada saat yang sama hal tersebut juga merupakan ujian seorang yang berprofesi sebagai guru. Pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) kejadian seperti ini kadang terjadi. Oleh karena itu, sebelum hal demikian nyata, perlu disikapi beberapa hal antisipatif antara lain: terapkan dengan maksimal guru sebagai pendidik, jadilah guru sebagai idola/dicintai siswa, gap hubungan guru dan siswa jangan dibiarkan menganga dengan lebar, rumah tangga serta lingkungan siswa sebaiknya menjadi bahan informasi sekolah tentang siswa, dan lain sebagainya.

Kesimpulannya, bahwa hukuman atau sanksi guru terhadap siswa haruslah merupakan bagian dari pendidikan. Guru tidak harus alpa dalam memberi hukuman sebagaimana hukuman yang boleh diberikan, tetapi jangan sampai guru juga obral dalam menghukum siswa, apalagi hukuman yang dilarang diberikan kepada siswa.
Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2016/02/bolehkah-guru-memberi-hukuman-kepada-siswa.html#ixzz4ZQ82mvAY

Saya pribadi juga sering memberikan hukuman kepada siswa. Biasanya karena siswa tersebut tidak mengerjakan tugas yang diberikan atau karena terlambat masuk kelas. Dulu saya sempat tidak mengizinkan siswa yang terlambat untuk masuk ke dalam kelas. Tetapi saya terpikir bahwa menghukum dengan cara tersebut menghalangi siswa untuk mendapatkan haknya untuk belajar. Dulu pernah juga saya memberikan hukuman dengan cara berdiri di depan kelas, tapi sepertinya hukuman seperti itu tidak efektif di kelas saya. Karena siswa yang dihukum tersebut terlihat seperti bangga dengan hukuman yang diberikan. 

Teringat pesan dosen saya waktu kuliah di PGSD Unlam Banjarmasin yaitu Ibu Asniati, beliau berpesan, apabila ingin menghukum siswa maka berikan hukuman yang mendidik. Lalu terbersit ide bagaimana cara menghukum siswa tersebut. Yaitu dengan cara menyalin materi yang ada dibuku paket. Mulai dari beberapa lembar sampai satu bab penuh dengan harapan dapat memberi efek jera dan memberikan kesan mendidik. Karena saya percaya dengan menulis kita pasti membaca apa yang kita tulis, dengan begitu siswa akan lebih mudah mengingat pelajaran (apa yang dia tulis).

Mungkin teman-teman memiliki cara tersendiri yang dapat digunakan untuk memberi hukuman kepada siswanya. Silakan tambahkan di kolom komentar nanti akan saya tambahkan dipostingan ini. Semoga artikel kali ini bermanfaat, terima kasih.





2 comments:

  1. saya memberikan hukuman berdiri di atas meja untuk semua siswa kelas 6 sd. dengan alasan karena mereka tidak tahu perkalian. dan yang bisa menjawab pertanyaan perkalian maka mereka akan duduk (perkalian 1-10). dan hal itu membuat mereka termotivasi. dan bisa di bilang cara itu berhasil.
    menurut anda apakah cara yang saya berikan itu salah atau? mohon penjelasannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. selama hukuman yang kita berikan mampu memberi efek jera saya rasa boleh2 aja pa, asalkan jangan dengan kekerasan di luar kemampuan siswa. kalau dengan cara didirikan di depan kelas membuat siswa rajin menghapal kenapa tidak? hukuman itu kan bukan hanya sebagai pemberi efek jera kepada siswa, tetapi juga diharapkan ada unsur pendidikan yang tertanam dalam hukuman tersebut. begitu kira2 menurut saya pa. terima kasih sudah memberi tanggapan

      Delete

Contoh RPP dan Pengertian Model Pembelajaran Inquiry

Suatu pembelajaran biasanya akan lebih efektif jika suatu pembelajaran tersebut didesain supaya menyenangkan bagi siswa. Salah satunya yait...